Saturday, July 25, 2009

minda

Sayup laungan permai mengejut aku,
Nyaman,
Indah terasa dunia,
Segalanya sempurna.

Tiba terik matahari menggigit tubuh,
Perit,
Sakit hingga ke sum – sum basah,
Yang makin kontang
Sedikit, demi sedikit cahaya terik itu malap
Kekeringan pula dibasahkan oleh dusta – dusta sial
Yang makin membutakan hati dan rohani.
Simbahan asid membakar
Namun kegelapan itu masih kekal.
Kegelapan yang makin membutakan
Kemalapan yang makin mematikan
Si buta ini meraba
Mencari sisa – sisa nur yang entah kemana pergi.

Bila tiba fajar merah mula menyinsing,
Segala lelah terasa terbazir,
Segala penat terasa terbuang,
Mata yang buta makin dibutakan,
Yang celik dimalapkan.
Api – api perjuangan disimbah
Dilunturkan,
Dimatikan sehabisnya.
Disogok nur – nur palsu yang makin memalapkan sinar matahari suci itu.

Bila malam datang menggamit,
Si celik digelapkan pandangannya
Si buta disuluh – suluh
Nur matahari suci itu terus tenggelam
Kelam
Ditelan kemodenan
Dibaham pembangunan
Apa lagi yang harus di olah untuk memanggil kembali sinar suci itu
Sial,
Memang sial,
Yang celik dibutakan,
Yang buta disimpan dalam gelap.

No comments:

Post a Comment